Pendekatan dan Pengajaran

A. Pendekatan

Pendekatan pembelajaran adalah suatu konsep yang digunakan dalam membahas suatu bahan pelajaran  untuk mencapai tujuan pembelajaran.

1Pendekatan Konsep

Pembelajaran dengan pendekatan konsep dimana siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep. Dalam proses pembelajaran penguasaan konsep dan sub konsep menjadi fokus pembelajaran. Pendekatan konsep adalah pendekatan pembelajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. (Syaiful Sagala, 2007). Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berfikir abstrak. Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik menguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep. Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama dan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Ciri-ciri suatu konsep adalah:

a.Konsep memiliki gejala-gejala tertentu.

b.Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung.

c.Konsep berbeda dalam isi dan luasnya.

d.Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalarnan.

e. Konsep yang benar membentuk pengertian.

f. Setiap konsep berbeda dengan melihat ‘ciri-ciri tertentu.

Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:

a.Menanti kesiapan belajar,kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.

b.Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.

c.Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai

    konsep yang kompleks.

d Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.

Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu:

a.Tahap Enaktik

Tahap Enaktik dimulai dari:

–  Pengenalan benda konkret.

–  Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman baru.

–  Pengamatan,penafsiran tentang benda baru.

b.Tahap Simbolik

Tahap Simbolik diperkenalkan dengan:

– Simbol,lambang,kode,seperti angka,huruf. kode,seperti (?=,/) dll.

– Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah   siswa  

  cukup mengerti akan ciri-cirinya.

– Memberi nama,dan istilah serta defenisi.

c.Tahap Ikonik

Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak,seperti:

– Menyebut nama,istilah,defmisi,apakah siswa sudah mampu    mengatakannya.

Dari uraian di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pendekatan konsep adalah suatu pendekatan dimana siswa dibimbing untuk menguasai konsep maupun sub konsep tanpa memperhatikan suatu proses.

2. Pendekatan Proses

Pendekatan proses bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Pendekatan proses siswa diberi kebebasan untuk menemukan sendiri sebuah konsep tertentu. Pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan ini dilatar belakangi oleh konsep-konsep belajar menurut teori Naturalisme-Romantis”dan teori kognitif gestal. Naturalisme-romantis menekankan kepada aktifitas siswa. Teori kognitif gestal menekankan pemahaman dan kesatu-paduan yang menyeluruh. Pendekatan ini adalah proses penalaran yang bermula dari umum ke khusus dengan diikuti dengan contoh-contoh atau penerapan penerapan aturan prinsip umum ke dalam keadaan khusus. Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan  dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, dan keuletan dalam belajar. Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendekatan proses adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa diberi kebebasan untuk menafsirkan, mengamati maupun menemukan  sebuah konsep sehingga siswa bisa menjiwai konsep secara menyeluruh.

3. Pendekatan Induktif

Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh filosof Inggris Prancis Bacon (1561) yang menghendaki agar penarikan kesimpulan di dasarkan dari fakta yang konkrit. Menurut Purwanto dalam Segala (2006:77) tepat atau tidaknya kesimpulan atau cara berpikir yang diambil secara induktif bergantung pada representatif atau sampel yang diambil mewakili fenomena keseluruhan. Pendekatan induktif menekankan pada pengamatan dahulu,lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus  menuju keadaan umum. Pendekatan induktif menggunakan penalaran induktif hingga cara empiris bisa diterapkan. Penalaran induktif dilakukan pada pengamatan dan pengalaman ada kelemahannya, yaitu tidak dapat menjamin kesimpulan berlaku umum. Oleh karenanya, matematika hanya dipakai induksi lengakap atau induksi matematika. Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah suatu pendekatan dengan cara menarik kesimpulan dari hal yang  dari bersifat khusus ke umum dan diperoleh dari suatu pengamatan dan pengalaman.

 

4. Pendekatan Deduktif

Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus. Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum dan diikuti dengan contoh – contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum ke dalam keadaan khusus. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola pikir yang disebut silogisme. Silogisme terdiri dari dua macam pernyataan  yang bernilai benar dan sebuah kesimpulan. Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendekatan induktif adalah suatu pendekatan dengan cara menarik kesimpulan dari hal yang  dari bersifat umum  ke khusus dan diperoleh dari suatu pengamatan dan pengalaman.

 

B. Pengertian Pengajaran

Menurut Jones A. Majid, (2005:16), pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Pengajaran adalah tardif (1987) memberi arti instruction secara lebih rinci yaitu a preplanned, goal directed educational proces designed tofacilitate learning. artinya adalah sebuah proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar. Pengajaran adalah suatu proses yang melibatkan pembuatan keputusan pada saat pra-pengajaran, pengajaran, dan pasca-pengajaran. Keputusan disaat pra-pengajaran adalah keputusan pada saat perencanaan kurikulum dan dalam satu unit pengajaran; keputusan pada saat pengajaran adalah keputusan yang dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung; dan pasca-pengajaran adalah segala keputusan yang dilakukan sebagai hasil evaluasi hasil proses pengajaran. Pada bagian ini hanya akan dijelaskan prosedur perencanaan dalam proses pengajaran. Pengajaran yaitu upaya pemanfaatan atau penggunaan ilmu yang didapat untuk meningkatkan keterampilan, bakat dan potensi yang dimiliki seseorang untuk menghadapi kemjauan Zaman dan sebagai bekal seseorang bersaing di dalam kehidupan.Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengajaran adalah suatu cara atau metode yang digunakan dalam pendidikan untuk mengupayakan tercapainya kemandirian, kedisiplinan ilmu, dan kematangan mental dari individu sehingga dapat menjalani  kompetisi kehidupan dengan baik.

 

C. Perbedaan Pengajaran Individual dan Klasikal

Pengajaran secara individual adalah kegiatan mengajar pembelajar yang menitikberatkan bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pengajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pengajaran individual, pembelajar memberi bantuan pada masing-masing pribadi. Sedangkan pada pengajaran klasikal, pembelajar memberi bantuan individual secara umum. Sebagai ilustrasi, bantuan pembelajar kelas tiga kepada pebelajar yang membaca dalam hati dan menulis karangan adalah pembelajaran individual. Dalam pengajaran individual awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual, sedangkan pada pengajaran klasikal awal pelajaran berdasarkan kemampuan rata-rata kelas. Pebelajar (siswa) menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas. Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal. tiap individu memiliki paket belajar sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga. Posisi peserta didik dalam pengajaran individual bersifat sentral, keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri,dan ada kebebasan menggunakan waktu belajar. Pengajaran  klasikal secara ekonomis, pembiayaan kelas studi lebih murah. Oleh karena itu, ada jumlah minimum pebelajar dalam kelas. Jumlah pebelajar tiap kelas pada umumnya berkisar dari 10 sdampai 45 orang. Dengan jumlah tersebut seorang pembelajar masih dapat membelajarkan peserta didik secara klasikal. Pengajaran klasikal berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu pengelolaan kelas dan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Prinsip-prinsip perbedaan pengajaran indivisual dan klasikal yaitu :

  1. Perhatian dan motivasi, perhatian mempunyai peranan di dalam kegiatan belajar
  2. Keaktifan menurut psikologi anak adalah makhluk yang aktif
  3. Keterlibatan langsung/ pengalaman belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami sendiri dan tidak bisa dilimpahkan pada orang lain.
  4. Perbedaan individual siswa merupakan makhluk individual yang unik yang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas.

Kelebihan pengajaran individual dan klasikal:

  1. Guru dapat mengetahui atau dapat membedakan antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
  2. Guru dapat mengetahui pelajaran yang belum dimengerti oleh siswanya.
  3. Guru dapat membedakan antara yang pintar dan yang belum pintar pada saat memberikan nilai.

Kelemahan pengajaran individual dan klasikal adalah :

  1. Guru dapat mengontrol siswa-siswa dalam kegiatan belajar.
  2. Siswa biasanya malas belajar sendiri karena siswa tidak ada motivasi belajar pada belajar sendiri.
  3. Pada saat belajar siswa sibuk dengan kegiatannya masing-masing tidak mau melihat kepapan tulis atau mendengarkan guru yang sedang menerangkan.

 

D. Metode Pengajaran Individual dan Klasikal

1. Pengajaran Individual

Pengajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individual dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran, (ii) siswa sebagai subjek yang belajar, (iii) guru sebagai pembelajar, (iv) program pembelajaran, serta (v) orientasi dan tekanan utama dalam peaksanaan pembelajaran. Tujuan Pengajaran pada Pembelajaran secara individual adalah :

  1. Pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri.
  2. Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal. Tiap individu memiliki paket belajar sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual.
  3. Peran siswa dalam pembelajaran secara individual bersifat sentral.
  4. Siswa memiliki keleluasaan berupa (i) keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri, (ii) kebebasan menggunakan waktu belajar, dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukannya, (iii) keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar, dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, (iv) siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, (v) siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta (vi) siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri.

Pada pembelajaran secara individual, tanggung jawab siswa untuk belajar sendiri sangat besar. Peran guru dalam pengajaran individual bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa perencanaan kegiatan belajar, pengorganisasian kegiatan belajar, penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa, dan fasilitas yang mempermudah belajar. Peranan guru dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut : (i) membantu merencanakan kegiatan belajar siswa; dengan musyawarah guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai kemampuan siswa, (ii) membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan criteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar, (iii) berperan sebagai penasihat atau pembimbing, dan (iv) membantu siswa dalam penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri. sebagai ilustrasi, guru membantu memilih program belajar dengan suatu modul. (Tjipto Utomo & Kees, Ruijter, 1990: 69-83).

Peranan guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur dan memonitor kegiatan belajar sejak awal sampai akhir. Peranan guru sebagai berikut: (i) memberikan orientasi umum sehubungan dengan belajar topic tertentu, (ii) membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan, (iii) mengkoordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan, materi, media, dan sumber, (iv) membagi perhatian pada sejumlah pebelajar, menurut tugas dan kebutuhan pebelajar, (v) memberikan balikan terhadap setiap pebelajar, dan (vi) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar berupa laporan atau pameran hasil kerja; unjuk kerja hasil belajar tersebut umumnya diakhiri dengan evaluasi kemajuan belajar. Peranan guru dalam penciptaan hubungan terbuka dengan siswa bertujuan menimbulkan perasaan bebas dalam belajar. Program pembelajaran dalam pengajaran individual merupakan usaha mem­perbaiki kelemahan pengajaran klasikal.

Dari segi kebutuhan pebelajar, program pembelajaran individual lebih efektif, sebab siswa belajar sesuai dengan programnya sendiri. Dari segi guru, yang terkait dengan jumlah pebelajar, tampak kurang efisien. Jumlah siswa sebesar empat puluh orang mem inta perhatian besar guru, dan hal itu akan melelahkan guru. Dari segi usia perkembangan pebelajar, maka program pem­belajaran individual cocok bagi siswa SLTP ke atas. Hal ini disebabkan oleh umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik, siswa mudah memahami petunjuk atau perintah dengan baik, dan siswa dapat bekerja mandiri dan bekerja sama dengan baik. Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok untuk diprogramkan secara individual. Bidang studi yang dapat diprogramkan secara individual adalah pengajaran bahasa, matematika, IPA, dan IPS bagi bahan ajaran tertentu. Program pembelajaran individual dapat dilaksanakan secara efektif, bila mempertimbangkan hal-hal berikut, yaitu : disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa, tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa, prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa, kriteria keberhasilan dimengerti oleh siswa, dan keterlibatan guru dalam evaluasi dimengerti siswa. Orientasi dan Tekanan utama pelaksanaan program pembelajaran individual berorientasi pada pemberian bantuan kepada se:iap siswa agar ia dapat belajar secara mandiri. Kemandirian belajar tersebut merupakan tuntutan perkembangan individu. Dalam menciptakan pembelajaran individual, rencana guru berbeda dengan pengajaran klasikal. Dalam pelaksanaan guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar, dan rekan diskusi. Guru berperan sebagai guru pendidik, bukan instruktur.

 

2. Pengajaran Klasikal

Pembelajaran klasikal merupakan kemampuan guru yang utama.. Hal itu disebabkan oleh pengajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas lebih murah. Oleh karena itu ada jumlah minimum siswa dalam kelas. Jumlah siswa tiap kelas pada umumnya berkisar dari 10 – 45 orang. Dengan jumlah tersebut seorang guru masih dapat membelajarkan siswa secara bertiasil. Pembelajaran kelas berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu pengelolaan kelas dan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Dalam pengelolaan kelas dapat terjadi masalah yang bersumber dari kondisi tempat belajar dan siswa yang terlibat dalam belajar. Kondisi tempat belajar yang berupa ruang yang kotor, papan rulis usak, meja-kursi rusak dapat mengganggu belajar. Sedangkan masalah siswa dapat berupa masalah individual atau kelompok. Gangguan belajar di kelas dapat berasal dari seorang siswa atau sekelompok siswa. Sudah tentu, guru dituntut berketerampilan mcng.’itasi gangguan belajar dari siswa. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan teknik-teknik penguatan agar ketertiban belajar terwujud. pengelolaan pembelajaran bertujuan mencapai tujuan belajar. Peran guru dalam pembelajaran secara individual dan kelompok kecil berlaku dalam pembelajaran secara klasikal. Tekanan utama pem­belajaran adalah seluruh anggota kelas. Di samping penyusunan desain instinksional yang dibuat, maka pembelajaran kelas dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut: penciptaan tertib belajar di kelas, penciptaan suasana senang dalam belajar, pemusatan perhatian pada bahan ajar, dan mengikutsertakan siswa belajar aktif serta pengorganisasian belajar sesuai dengan kondisi siswa. Dalam pembelajaran kelas, guru dapat mengajar seorang diri atau bertindak sebagai rim pembelajar. Pada pengajaran klasikal guru sangat mendominasi dalam menentukan semua kegiatan pembelajaran. Banyaknya materi yang akan diajarkan, urutan materi pelajaran, kecepatan guru mengajar dan lain-lain sepenuhnya ada ditangan guru.

Metode pembelajaran klasikal konvensional biasanya menuntut disiplin yang tinggi dari para siswa, dan guru memiliki otoritas penuh di ruang kelas. Pelajaran klasikal cenderung digunakan oleh guru apabila dalam proses pelajarannya lebih banyak bentuk penyajian materi dari guru. Penyajian lebih menekankan untuk menjelaskan sesuatu materi yang belum diketahui atau dipahami siswa. Metode yang digunakan cenderung metode ceramah dan tanya jawab bervariasi. Pembelajaran klasikal akan memberi kemudahan bagi guru dalam mengorganisasi materi pelajaran, karena dalam pelajaran klasikal secara umum materi pelajarannya akan seragam diserap oleh siswa. Pembelajaran klasikal dapat digunakan apabila materi pelajaran lebih bersifat informatif atau fakta. Proses pembelajaran klasikal dapat membentuk kemampuan siswa dalam menyimak atau mendengarkan, membentuk kemampuan dalam mendengarkan dan kemampuan dalam bertanya.  Model pengajaran klasikal
ditekankan pada pengembangan kecakapan hidup didasarkan atas pokok-pokok pemikiran bahwa hasil proses pembelajaran. Selain berupa penguasaan siswa terhadap kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran tertentu, juga berupa kecakapan lainnya yang secara implisit diperoleh melalui pengalaman belajar. hasil samping yang positif atau bermanfaat.

 

Taut | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s