Strategi Pembelajaran

A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Glueck dan Jauch, p.9, 1989). Menurut Sanjaya, (2007 : 126) strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa strategi adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Menurut Toeti Soekamto,dkk (1992) mengutip pendapat Margon dan kawan- kawan, bealajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahn tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Dengan demikian, belajar adalah suatu aktivitas latihan dan kegiatan anak untuk mendapatkan pengalaman. Mengajar pada hakikatnya adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik atau suatu usaha yang dilakukan guru agar terjadi aktivitas untuk bisa berubah menjadi individu yang lebih baik. Dari pandangan modern mengajar dapat didefinisikan adala: teaching is guidance of learning atau bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Dengan demikian, mengajar adalah menanamkan pengetahuan kepada anak didik. Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Strategi pembelajaran merupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya. Strategi pembelajaran adalah cara- cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa strategi belajar mengajar dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam setiap pembelajaran guru harus memilih strategi yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Teknik dan metode yang ada dalam pembelajaran juga penting demi tercapainya pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu, setiap calon guru atau guru harus menguasai tentang strategi pembelajaran agar nantinya mampu menguasai kondisi kelas. Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut :
1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasibperubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaiman yang diharapkan.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan mengajar yang prosuder, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiata mengajar.
4. Menetapkan norma – norma dan batas minimal keberhasilan atau criteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan system instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

B. Kedudukan SBM Dalam Pengajaran.
Strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa. Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuanpembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar.Metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di madrasah, tindakan pembelajaran mempunyai model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis.Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaranmeliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan,
Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaranberdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan konsep komunikasi dalam pembejaran matematika agar siswa lebih mudah dalam mencerna dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

C. Perbedaan antara Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikansecara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi,menginsipi rasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke
pencapaian tujuan.
Strategi pembelajaran adalah sutu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Strategi pembelajaran dapat dikelompokkan dalam dua bagaian:
1) Expositori-discovery learning,
2) Group-Individual learning
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Beberapa Metode pembelajaran misalnya antaranya adalah:
1) Ceramah 6) Studi mandiri
2) Demonstrasi 7) Kegiatan pembelajaran terprogram
3) Tanya jawab 8) Latihan bersama teman
4) Penampilan 9) Simulasi
5) Diskusi 10) Pemecahan masalah, dll
Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Teknik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Misalnya, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam teknik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara ang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dian sangat menguasai bidang tersebut.

D. Hubungan Tujuan Pembelajaran Dengan Strategi Belajar Mengajar
Yang tergolong fasilitas pembelajaran adalah sarana pembelajaran (yang pengaruhnya terhadap proses serta pencapaian tujuan pembelajaran bersifat langsung) dan prasarana pembelajaran (yang pengaruhnya terhadap proses serta pencapaian tujuan pembelajaran bersifat tidak langsung); contoh dari sarana pembelajaran adalah alat peraga, alat tulis yang dibutuhkan dalam pelajaran, perpustakaan, laboratorium dan sejenisnya; contoh dari prasarana pembelajaran adalah fasilitas pergedungan pada umumnya, sanitasi yang sehat dan indah, kantin sekolah, transportasi yang tepat waktu dan aman, dan sejenisnya. Jika guru mengajar disuatu sekolah yang kondisi fasilitasnya lengkap, siap pakai, dan sesuai dengan jenis sekolah serta jenis bidang studi atau mata pelajaran dalam kurikulumnya, maka kondisi yang ideal itu memberi dorongan serta peluang bagi guru tersebut untuk secara kreatif serta bervariasi mempertimbangkan-memilih-melaksanakan berbagai metode pembelajaran dalam rangka mengoptimalkan proses serta hasil belajar siswanya; kebalikannya, jika kondisi fasilitas sekolah minimal akan banyak menghambat pilihan-pilihan metodologi pembelajarannya dan akhirnya merugikan perkembangan siswa. Hubungan antara metode pembelajaran dengan fasilitas pembelajaran (lihat diagram nomer 4) tampak dalam contoh-contoh di bawah ini, yaitu :
• Metode diskusi akan berjalan dengan baik jika didukung oleh kecakapan siswa untuk berdiskusi dan sumber belajar yang banyak serta relevan dengan tema diskusi (siswa berbekal data, konsep dan pengalaman yang cukup sebelum berdiskusi)
• Guru yang merancang pembelajarannya dengan metode eksperimen tidak akan berjalan jika alat untuk melakukan eksperimen tersebut tidak ada; maka pembelajaran tersebut akan lebih cocok menerapkan metode demonstrasi dari pada metode eksperimen.
Maka untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh diperlukan strategi belajar mengajar agar tercipta hasil yang maksimal.

E. Hakekat matematika
Menurut Johnson dan Myklebust (Abdurrahman, 2003:252) matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan dalam berpikir.
Lerner (Wiyanto, 2007:10) mengemukakan bahwa disamping matematika sebagai bahasa simbolik juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikaasikan gagasan dan ide mengenai elmen dan kuantitas.
Sujono (1988:5) mengemukakan beberapa pengertian matematika. Di antaranya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang definisi dan deskripsi matematika di atas, kiranya dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita seorang Muslim – terutama bagi pihak yang masih merasa memiliki anggapan “sempit” mengenai matematika. Melihat beragamnya pendapat banyak tokoh di atas tentang matematika, benar-benar menunjukkan begitu luasnya objek kajian dalam matematika. Matematika selalu memiliki hubungan dengan disiplin ilmu yang lain untuk pengembangan keilmuan, terutama di bidang sains dan teknologi.Matematika itu ibarat belajar ilmu yang ada, ilmu yang belum kita ketahui dan ilmu yang baru kemudian seberapa cepat kita dapat memahaminya sehingga dengan prinsip ini kita akan dapat belajar dengan dinamis sesuai perkembangan waktu. Bagi guru, dengan memahami hakikat definisi dan deskripsi matematika sebagaimana tersebut di atas- tentunya memiliki kontribusi yang besar untuk menyelenggarakan proses pembelajaran matematika secara lebih bermakna. Diharapkan, matematika, tidak lagi dipandang secara parsial oleh siswa, guru, masyarakat, atau pihak lain. Melainkan mereka dapat memandang matematika secara “jujur” (utuh) yang pada akhirnya dapat memacu dan berpartisipasi untuk membangun peradaban dunia demi kemajuan sains dan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi umat manusia. Lebih-lebih membawa dampak positif bagi umat Muslim, sehingga dapat merasakan kembali bagaimana peradaban Islam dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s