Inovasi Kelembagaan Sistem Sekolah

A. Inovasi Dalam Manajemen Sekolah

Sekolah sebagai unit operasional memerlukan pengaturan dalam pelaksanaan, sehingga antara satu komponen dengan komponen lainnya bekerja secara sistemik. Kerja persekolahan tidak bersifat parsial, artinya dalam menyelenggarakan roda sekolah tidak mungkin masing-masing komponen berdiri sendiri, tetapi satu dengan lainnya saling terkait. Oleh karena itu, diperlukan cara  manajemen  persekolahan yang sistemik. Komponen sekolah dapat diklasifikasikan  menjadi dua kategori yaitu komponen yang bersifat dinamis dan bersifat statis. Komponen yang bersifat dinamis seperti guru, murid/mahasiswa, karyawan, dan masyarakat. Sedangkan komponen yang bersifat statis seperti administrasi, dan kurikulum. Manajemen pendidikan yang sekarang sedang dikembangkan berkencenderungan memberikan otonomi yang lebih besar sehingga diharapkan sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi pendidikan.

Manajemen pendidikan yang dikembangkan bertumpu pada masyarakat atau sekolah, yaitu mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. Menurut identifikasi studi Bank Dunia ada empat hal yang ditemukan sebagai kendala pengembangan kemajuan pendidikan di Indonesia, yaitu Pertama, sistem organisasi yang tumpang tindih di tingkat pendidikan dasar. Kedua, pengelolaan manajerial sangat sentralistik pada tingkat SMP. Ketiga, sangat kaku dalam proses pembiayaan persekolahan. Keempat, manajemen yang diterapkan belum mampu pada peningkatan  produktivitas pendidikan. Berdasarkan laporan melalui analisis  Education in Indonesia:  From Crisis to Recovery (1998) diajukan lima aspek upaya  yang dijadikan sarana perbaikan institusional pendidikan Indonesia, proyeksi recovery dari Bank Dunia tersebut adalah  pemberdayaan lokal, pemberian otonomi  pendidikan, peningkatan kemampuan institusional ( kelembagaan ), pemberian kewenangan yang lebih besar dengan manajemen sekolah yang lebih bertanggung jawab, dan system pendanaan yang memberikan jaminan pemerataan dan efisiensi. Kelima aspek ini yang  menjadi kelemahan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dan akan dijadikan landasan perbaikan pendidikan sekarang ini.

B. Manajemen Berbasis Sekolah

 

Persoalan pendidikan sekarang ini sudah menjadi keprihatinan kita bersama sehingga berbagai upaya telah diterapkan untuk memecahkan masalah tersebut mulai dari pelatihan pelaku pendidik, pengadaan buku ajar, dan alat ajar yang diharapkan  agar terjadi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah menerapkan manajemen berbasis sekolah. Karena hakikat manajemen berbasis sekolah adalah penerapan kewenangan lokal sekolah untuk  secara mandiri mengelola penyelenggaraan sekolah dengan bertumpu pada kebutuhan dan kemampuan sekolah itu sendiri. Dalam manajemen berbasis sekolah , ada tiga faktor yang menyebabkan penurunan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan yang merata. Ketiga faktor  tersebut ialah

  • Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function yang tidak dilaksanakan secara konsekuen.
  • Penyelenggaraan pendidikan dilakukan birokratik sentralistik sehingga  semua keputusan tentang sekolah diatur dari pusat dan inisiatif lokal terabaikan.
  • Minimnya keterlibatan orang tua dalam upaya memajukan sekolah.

 

  1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi atau kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan alternatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, provinsi, dan pemerintah kabupaten.

 

  1. Tujuan Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah
    1. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam hal mutu sekolah.
    2. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam penyelenggaraan dan pemanfaatan sumber pendukung yang tersedia.
    3. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah melalui pengambilan keputusan bersama.
    4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang dicapai.
    5. Meningkatkan rasa memiliki sekolah.
    6. Mengembangkan rasa tanggung jawab dalam penyelenggaraan sekolah karena adanya stakeholder yang bertugas melakukan supervisi atas pelaksanaan sekolah.
    7. Mendekatkan kebutuhan riil yang diperlukan dalam pengembangan mutu sekolah.

 

  1. Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah
    1. Sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.
    2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya pendidikan yang akan  dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
    3. Pengambilan keputusan yang dilakukan sekolah dapat memenuhi kebutuhan sekolah karena sekolah lebih tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
    4. Penggunaan sumber daya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana masyarakat mengawasi.
    5. Keterlibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
    6. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan  kepada pemerintah, orang tua , peserta didik, dan masyarakat.
    7. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
    8. Sekolah dapat secara tepat merespon aspirasi masyarakat yang berubah dengan pendekatan yang tepat, dan cepat.

 

  1. Spesifikasi dalam Proses Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah
    1. Memiliki proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi
    2. Kepemimpinan sekolah yang kuat
    3. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
    4. Sekolah harus memiliki budaya mutu
    5. Sekolah harus memiliki team work yang handal
    6. Adanya partisipasi yang tinggi dari masyarakat dan warga sekolah
    7. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen dan  kemandirian
    8. Sekolah harus memiliki sifat dan berkemauan selalu berubah.

 

Secara skematis sekolah yang efektif digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

Indikator yang merupakan penanda dari keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah ialah sebagai berikut :

  1. Efektivitas proses belajar mengajar yang tinggi
  2. Kepemimpinan sekolah yang kuat
  3. Pengelolaan yang efektif atas tenaga kependidikan
  4. Sekolah mempunyai budaya mutu
  5. Sekolah memiliki team work yang kompak, cerdas, dan dinamis serta harmonis.

 

C.  Manajemen Berbasis Masyarakat

 

Manajemen pendidikan berbasis masyarakat mengasumsikan bahwa dalam sekolah konvensional diselenggarakan yang selama diselenggarakn oleh Pemerintah tidak mampu memenuhi kebutuhan riil masyarakat setempat serta tidak mampu mengakomodasikan aspirasi mesyarakat selaku stakeholder. Akibatnya, produk pendidikan tidak memenuhi tuntutan dunia kerja maupun keinginan pengguna jasa pendidikan. Akibat lebih lanjut adalah terjasi kelebihan lulusan dibanding dengan ketersediaan lapangan kerja. Dalam perspektif pendidikan formal, manajemen berbasis masyarakat sering dikacaukan dengan pendidikan berbasis masyarakat. Padahal keduanya berbeda. Manajemen berbasis masyarakat menunjukkan pada  pengelolaan pendidikan dengan bertumpu pada kepentingan masyarakat, sedangkan pendidikan berbasis masyarakat menunjukkan  pendidikan yang diselenggarakn oleh, untuk, dan dari masyarakat.

Manajemen berbasis masyarakat ada juga yang memodifikasinya dengan pendidikan berbasis kebutuhan masyarakat yang dinamakan “Community College”. Dalam model pendidikan seperti ini, sekolah memungkinkan dijadikan wahana bagi pelatihan keterampilan tertentu oleh masyarakat sehingga terkesan seperti masyarakat masuk sekolah (sekolah dijadikan tempat mendidik anggota masyarakat yang tidak berstatus sebagai siswa, namun untuk sementara waktu dibelajarkan di sekolah karena sekolah mempunyai fasilitas untuk mendidik keterampilan tertentu bagi masyarakat ). Prinsip dasar penyelenggaraan manajemen berbasis masyarakat sebagai  berikut :

  1. a.      Partisipatif

Yaitu upaya melibatkan masyarakat dalam berbagai proses yang dilakukan oleh sekolah.

  1. b.      Transparansi

Yaitu upaya untuk mendorong terselenggarnya keterbukaan dalam setiap pengambilan keputusan yang berdampak dalam pengelolaan sekolah (menyangkut masyarakat) menjadi suatu keharusan untuk dikembangkan.

  1. c.       Akuntabilitas

Yaitu upaya untuk mewujudkan mekanisme pelaporan dan mekanisme kontrol yang efektif.

  1. Responsif

Yaitu suatu tindakan sekolah yang tanggap terhadap berbagai tuntutan yang muncul dari masyarakat akibat pelaksanaan suatu kebijakan sekolah.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s